Benarkah kita sudah merdeka
Kemerdekaan Indonesia sudah mencapai 61 tahun, bahkan untuk memperingatinyapun dilaksanakan dengan berbagai cara oleh seluruh rakyat Indonesia. Dari pelaksanaan upacara yang begitu formalnya mulai tingkat pusat sampai ke Rt/Rw. Aneka perlombaan diselenggarakan. Dari tarik Tambang,
makan kerupuk, panjat pinang, serta perlombaan yang aneh-aneh sehingga perutpun dibikin terjungkal-jungkal kegelian bila menyaksikannya.
Di sisi yang lain ada suatu pertanyaan benarkah kegembiraan dan keceriaan tersebut dapat dirasakan setelah perayaan HUt tersebut selesai? Bagaima tidak! Banyak sebagian atau bahkan kebanyakan atau kita sendiripun mungkin masih juga merasakan adanya penjajahan di sekitar kita. Kita masih takut bersikap atau mengambil suatu keputusan bila ada suatu masalah yang harus kita selesaikan. Kita masih takut pada atasan, kita masih takut pada omongan orang, kita masih merasa was-was atas sesuatu yang akan kita pilih. Dalam Bahasa jawa "gek-gek" mengko dadi anu….. dst".
Menurut AA Gym dalam tausiyahnya beberapa waktu yang lalu di RCTI mengemukakan bahwa, orang yang merdeka adalah orang yang selalu iklas akan ketentuan Tuhannya. Dan bila berbuat sesuatu tidak pernah ragu ataupun takut kecuali akan Allah.
Bisakah sikap yang demikian itu diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari yang nota bene mengaku seorang muslim yang taat.
Bila demikian kita harus mencoba banyak hal dari untuk bisa meraih menjadi manusia yang merdeka di bumi ini. Mungkin bisa diawali dari kehidupan rumah tangga kita, lingkungan kita, tempat bekerja kita dan dimana saja kita biasa berkiprah. Kita bisa berbuat positif apa yang kita maui tanpa takut kepada siapapun dan apapun kecuali pada Satu Yang Esa, yang menguasai jagat raya ini dan seisinya. Tapi yang itu memang tidak mudah. Namun perlu dicoba sekuat tenaga.

Memang benar negara belum merdeka, jadi kita yang menghuni tanah nama Indonesia ini hanya nunut tinggal saja, contoh praktis saja orang Indonesia lebih suka menjadi buruh bukan menjadi direktur/pimpinan, dari kualitas pendidikan saja kita perlu belajar ke negeri Jiran Malaysia padahal dahulu kita menjadi profesornya, itulah komentar saya.
Comment by tripriyatno — August 29, 2006 @ 5:47 am